{"id":3658,"date":"2017-09-23T10:43:15","date_gmt":"2017-09-23T03:43:15","guid":{"rendered":"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/?p=3658"},"modified":"2025-01-29T21:18:45","modified_gmt":"2025-01-29T14:18:45","slug":"promosi-doktor-ke-40-dr-dwiyana-habsary","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/promosi-doktor-ke-40-dr-dwiyana-habsary\/","title":{"rendered":"Promosi Doktor ke 40 Dr Dwiyana Habsary"},"content":{"rendered":"<p>Jum&#8217;at 22 September 2017 pukul 09.00\u2013 11.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Sdri <strong>Dwiyana Habsary<\/strong>. Sidang diketuai oleh <strong>Prof. Dr. Djohan, M.Si.,<\/strong> sebagai Promotor adalah <strong> Prof. Dr. Y Sumandiyo Hadi, S.S.T., S.U. ,<\/strong> dan sebagai Kopromotor,\u00a0<strong>Dr. GR Lono Lastoro Simatupang, M.A. <\/strong>Kemudian Dewan Penguji\u00a0 Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, Dr. Sal Murgiyanto, Dr. Rina Martiara, M.Hum., Dr. Bambang Pudjasworo, M.Hum, Prof. Dr. AM Hermien Kusmayati, S.S.T., S.U., Dr. Ni Nyoman Sudewi, S.S.T., M.Hum. Saudara <strong>Dwiyana Habsary <\/strong>berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul\u00a0<strong>Tari Genre Persembahan Sebagai Identitas Budaya Masyarakat\u00a0 Lampung <\/strong>di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat \u201c<strong>Memuaskan<\/strong>\u201d dan menjadi Doktor ke 40 dari PPs ISI Yogyakarta. dan merupakan Doktor di bidang Pengkajian Seni ke 19 dari PPs ISI Yogyakarta.<!--more--><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana7.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-3666\" src=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana7.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" \/><\/a>Dalam tulisannya menyebutkan bahwa Daerah Lampung merupakan daerah yang memiliki dua masyarakat adat yaitu Pepadun dan Saibatin. Masing-masing adat memiliki beberapa ciri antara lain bahasa (terkait dengan dialek), wilayah mukim (walau saat ini sudah agak sulit untuk diidentifikasi secara tegas), pakaian dan properti adat, dan cara memperoleh gelar adat. Perbedaan tersebut dapat dilihat pula dalam tarian dari masing-masing wilayah adat. Perbedaan tersebut terlihat pada elemen-elemen pendukung tari dari masing-masing wilayah adat.<\/p>\n<p>Perbedaan ini merupakan salah satu dasar dari dibentuknya tari Sigeh Penguten. Merupakan tari persembahan yang disajikan untuk tamu. Tari Sigeh Penguten cenderung menggunakan atribut-atribut yang terdapat pada masyarakat Pepadun. Kemudian muncul bentuk tari persembahan lain yang menggunakan atribut masyarakat Saibatin yaitu Muli Limban Waya, bahkan bentuk tari yang terakhir menggunakan atribut kedua wilayah adat tersebut yaitu Persembahan. Fenomena pergolakan bentuk identitas ini yang membuat peneliti tertarik untuk dikaji.<\/p>\n<ol>\n<li>Mengapa identitas budaya Lampung terwujud dalam tari bergenre persembahan?<\/li>\n<li>Elemen-elemen koreografis apa saja yang terdapat pada tari bergenre persembahan, dan muatan nilai budaya apa saja yang terkandung di dalamnya?<\/li>\n<li>Mengapa terjadi berbagai perbedaan pendapat terhadap bentuk tari bergenre persembahan sebagai identitas masyarakat adat Pepadun dan Saibatin?<\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana2-e1508988595334.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-3661 alignleft\" src=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana2-e1508988595334.jpg\" alt=\"\" width=\"297\" height=\"446\" \/><\/a>Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa elemen-elemen yang terdapat pada tari genre persembahan yang ada di Lampung merupakan hasil dari gabungan kedua unsur masyarakat adat Lampung. Munculnya bentuk-bentuk tari ini berujung pada terbentuknya genre tari persembahan dengan berbagai gaya (Pepadun dan Saibatin). Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Identitas budaya Lampung terwujud dalam genre tari persembahan disebabkan oleh latar belakang budaya masyarakat Lampung tentang <em>pi\u2019il<\/em> atau harga diri. Salah satu perwujudan perilaku yang dapat membuat seseorang memperoleh <em>pi\u2019il <\/em>adalah dengan menghargai dan menjamu tamu dengan baik. Genre tari persembahan merupakan salah satu wujud budaya masyarakat Lampung yang suka menyiapkan <em>pengutonan<\/em> atau persembahan terutama dalam acara-acara adat.<\/li>\n<li>Pada aspek koreografis yang mendukung terbentuknya genre tari persembahan dapat dikaji muatan nilainya. Aspek gerak, penyangga, kostum, properti pada tarian ini menggambarkan nilai dan budaya masyarakat Lampung. Adapun muatan nilai yang dimiliki bersama ketiga tarian tersebut adalah <em>pi\u2019il<\/em>. Meskipun demikian perwujudan koreografis nilai tersebut dapat bervariasi menurut koreografer maupun konteks penyajian. Pada genre tari persembahan yang ada di Lampung muatan nilai <em>pi\u2019il <\/em>digambarkan melalui gerak yang mencerminkan keahlian atau keterampilan yang harus dimiliki seorang <em>muli<\/em>. Keberhasilan seorang <em>muli <\/em>adalah memiliki berbagai keahlian, maka ia akan memiliki harga diri (<em>pi\u2019il<\/em>). Namun apabila seorang <em>muli <\/em>tidak\u00a0 memiliki keahlian, maka dia akan mendapat rasa malu atau <em>liyom<\/em>.<\/li>\n<li>Keberadaan masyarakat adat Lampung yang terdiri dari Pepadun dan Saibatin merupakan latar belakang pergerakan identitas yang tidak akan pernah selesai di daerah Lampung. Lampung terdiri dari Pepadun dan Saibatin yang keduanya akan senantiasa mempertahankan simbol-simbol yang menunjukkan jati diri dari masing-masing adat. Wacana identitas di daerah Lampung hingga saat ini masih berkutat seputar atribut-atribut dari masyarakat Saibatin dan Pepadun.<\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana11.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-3670\" src=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana11.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" \/><\/a>Manfaat penelitian ini<\/p>\n<ol>\n<li>Dengan mengetahui alasan-alasan atau faktor-faktor yang menyebabkan identitas diwujudkan dalam tari Sigeh Penguten, Muli Limban Waya, dan Persembahan, pembaca akan mengetahui bagaimana masyarakat Lampung (masyarakat adat dan pendatang) mewujudkan gagasannya melalui tari.<\/li>\n<li>Dengan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat kedua masyarakat adat (Pepadun dan Saibatin) tentang identitas, maka dapat mengetahui apa sesungguhnya hal-hal yang selalu dijadikan pembeda dari masing-masing masyarakat adat untuk menunjukkan ke-Lampungan-nya.<\/li>\n<li>Dengan mengetahui elemen-elemen koreografis dari masing-masing tari, akan diketahui unsur-unsur apa saja yang ditonjolkan dari masing-masing tari, serta dapat memberikan informasi tentang muatan-muatan nilai apa saja yang dapat dituangkan dalam tari, serta mengetahui bagaimana cara masyarakat setempat menggambarkan nilai-nilai tersebut melalui gerak tari.<a href=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-3675\" src=\"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/dwiyana16.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" \/><\/a><\/li>\n<\/ol>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jum&#8217;at 22 September 2017 pukul 09.00\u2013 11.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Sdri Dwiyana Habsary. Sidang diketuai oleh Prof. Dr. Djohan, M.Si., sebagai Promotor adalah Prof. Dr. Y Sumandiyo Hadi, S.S.T., S.U. , dan sebagai Kopromotor,\u00a0Dr. GR Lono Lastoro Simatupang, M.A. Kemudian Dewan Penguji\u00a0 Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, Dr. Sal Murgiyanto, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3673,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-3658","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ujian-terbuka"],"featured_image_src":{"landsacpe":false,"list":false,"medium":false,"full":false},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3658"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11386,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3658\/revisions\/11386"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}