{"id":3114,"date":"2017-01-25T09:39:41","date_gmt":"2017-01-25T02:39:41","guid":{"rendered":"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/?p=3114"},"modified":"2025-01-29T21:18:47","modified_gmt":"2025-01-29T14:18:47","slug":"promosi-doktor-ke-33-drs-setyo-budi-m-sn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/promosi-doktor-ke-33-drs-setyo-budi-m-sn\/","title":{"rendered":"Promosi Doktor ke 33 Drs. Setyo Budi, M.Sn."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Senin, 23 Januari 2017pukul 10.00\u2013 12.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Drs. Setyo Budi, M.Sn. Sidang diketuai oleh <strong>Prof. Dr. Djohan, M.Si.<\/strong> ,<strong> Prof. Drs. SP. Gustami, SU.,<\/strong> sebagai Promotor, <strong>Dr. G. Budi Subanar, SJ. <\/strong>Kopromotor, dan Dewan Penguji\u00a0 PProf. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum., Prof. Dr. Kasidi Hadiprayitno, M.Hum, Prof. Drs. M. Dwi Marianto, M.F.A., Ph.D., Dr. Suastiwi, M.Des, Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., Dr. Lono , Lastoro Simatupang, M.A., Saudara Drs. Setyo Budi, M.Sn. berhasil mempertahankan Disertasi yang berjudul <strong>Enam Motif Batik Klasik dan Satu <em>Lurik<\/em> Dalam Sistem Nilai Ritual <em>Mitoni<\/em> Masyarakat Surakarta <\/strong>di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat \u201c<strong>Sangat Memuaskan<\/strong>\u201d dan menjadi Doktor ke 33 dari PPs ISI Yogyakarta. dan merupakan Doktor di bidang Pengkajian Seni ke 13 dari PPs ISI Yogyakarta.<!--more--><a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana2.jpg\" rel=\"attachment wp-att-3117\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3117 alignleft\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana2.jpg\" alt=\"Suardana2\" width=\"391\" height=\"586\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Budaya Jawa adalah salah satu puncak eksotika peradaban manusia; dibangun dari berbagai faham dan keyakinan pendatang, berpadu dengan potensi lokal yang animistis dan dinamistis. Manusia Jawa secara naluriah, berkembang bukan hanya berdasar apa yang dipikirkan, melainkan juga yang dirasakan. Memformulasi sekian banyak ajaran dengan konteks kealaman yang bermuara pada <em>K\u00eajaw\u00e8n<\/em>, menuntunnya membangun \u201calam pikiran\u201d yang lebih cenderung sebagai \u201calam <em>rasa<\/em>\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Surakarta adalah wilayah budaya yang memiliki ikatan psiko-historikal dengan perjalanan kebudayaan Jawa. Pada masa kejayaannya dalam bentuk keraton, menghantarkan budaya Jawa mencapai puncak keemasan, ditandai dengan beberapa produk budayanya di kemudian hari disebut seni klasik. Seiring dengan kedatangan pola pikir Barat, masyarakat Jawa belajar banyak tentang strategi sosial dalam kepentingan ekonomi. Eksploitasi alam ajaran Feodalisme menumbuhkan perilaku baru untuk hidup dalam tatanan feodalistik agraris. Masyarakat Surakarta di dalam kehidupannya yang sekarang, adalah masyarakat transisi yang hidup di alam modern tetapi tetap berpegang pada sebagian besar nilai-nilai lama. Beberapa jenis ritual dan upacara lama, tetap hidup dan berkembang hingga sekarang menjadi aktivitas tradisi dalam proses adaptasi evolutif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Mitoni <\/em>adalah ritual tradisi lama Jawa untuk <em>slam\u00eatan<\/em> pra-kelahiran pada usia kandungan tujuh bulan. Oleh masyarakat Surakarta dilaksanakan dengan tujuh tahapan prosesi yang didahului dengan penentuan waktu dan ruang ritual. Tujuh tahapan tersebut adalah prosesi <em>Tulak-balak<\/em>, <em>S\u00easaj\u00e8n<\/em>, <em>Sungk\u00eaman<\/em>, <em>Siraman<\/em>, <em>Brojolan<\/em>, <em>Nyampingan<\/em>, and <em>Jangk\u00eapan<\/em>. Ritual itu disuburkan dalam konteks kealaman, pengalaman sosio-historis, dan kesadaran antropo-kultural. Penggunaan tujuh kain ritual yaitu: enam <em>jarit<\/em> motif batik klasik Surakarta dan satu kain tenun <em>lurik<\/em> menjadi penciri prosesi ritual tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5.jpg\" rel=\"attachment wp-att-3120\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3120\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5.jpg\" alt=\"????????????????????????????????????\" width=\"1024\" height=\"685\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5.jpg 1024w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5-768x514.jpg 768w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5-640x428.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5-400x268.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana5-367x246.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian besar tahapan prosesinya dilengkapi perangkat simbol lain yang berbasis tujuh. Akumulasi simbol yang bersinergi dengan <em>mantra<\/em> (doa) dan tahapan prosesi membentuk konstruk ritual yang terpola menjadi \u201dsistem nilai\u201d ritus. Ritual <em>Mitoni<\/em> secara kesejarahan dapat mengungkap \u2018alam pikiran\u2019 dan \u2018alam rasa\u2019 yang mendasari ketradisiannya. Traumatik kehidupan oleh kekejian <em>Cultuurstelsel<\/em> abad XIX yang diwariskan ke generasi berikut, mengendap menjadi <em>meme<\/em> budaya masyarakat Jawa dan Surakarta khususnya, dalam bentuk <em>syndrome memetic<\/em>. Rasionalitas masyarakat Jawa yang mulai mempolakan ritual\/upacara tradisinya memasuki abad XX, menunjukkan adanya kesadaran ideologis komunal untuk \u2018melepaskan diri\u2019 dari <em>syndrome<\/em> ketertindasan dan kemelaratan melalui ritual<em> Mitoni<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Batik Jawa dalam ranah kesejarahan mampu menunjukkan ciri-ciri <em>indigenous<\/em> <em>knowledge<\/em> dalam tataran seni klasik. Hal itu dapat dijelaskan, ketika enam motif batik tersebut, yaitu: <em>Sidoasih, Sidodadi,<\/em> <em>Sidomukti, Sidodrajat, Sidomulyo, <\/em>and <em>Sidoluhur<\/em> dimaknai berdasar pola baca <em>Mandala, <\/em>maka melahirkan pemaknaan tentang enam tuntunan hidup, yaitu cinta kasih, keberadaan, kemapanan, kehormatan, kemuliaan, dan keluhuran. Berbeda dengan ornamentika kain <em>lurik<\/em> corak <em>Tumbar P\u00eacah <\/em>yang bermakna penyatuan antara laki-laki dengan perempuan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1.jpg\" rel=\"attachment wp-att-3116\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3116\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1.jpg\" alt=\"????????????????????????????????????\" width=\"1024\" height=\"685\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1.jpg 1024w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1-768x514.jpg 768w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1-640x428.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1-400x268.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana1-367x246.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prosesi ritual <em>Mitoni<\/em> adalah sistem pengelolaan simbol menjadi \u201cmetasimbol\u201d, tahapan prosesi dramatik untuk menjadi \u201cmetadramatikal\u201d. Keseluruhannya adalah \u201csistem nilai\u201d untuk mencapai tataran waktu dan ruang transcenden, di mana\u00a0 simbol dan prosesi mengalami <em>sublime<\/em> menjadi estetika transcenden yang penuh energi metafisik. Melalui estetika metadramatikal, manusia Jawa berusaha mengendalikan waktu, dan melalui estetika metasimbol berusaha mengendalikan ruang. Ketika waktu dan ruang dalam kesadaran transcenden, maka itulah <em>moment<\/em> di mana \u201cnilai keyakinan\u201d ritual terbangun. Pada titik tersebut, Waktu dan Ruang Absolut \u201cDiizinkan\u201d menyatu dalam waktu dan ruang ritual. Waktu dan ruang dari masa lampau dan masa depan dihadirkan, dan waktu dan ruang <em>jabang bayi<\/em> dalam kandungan disatukan dalam \u201cKesekarangan\u201d. Berbagai dimensi tertembus, bahkan nasib masa depan <em>jabang bayi<\/em> pun dihadirkan dan \u2018ditulis\u2019 dengan energi dari enam motif batik klasik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Enam motif batik klasik Surakarta adalah enam kehendak yang telah <em>sublime<\/em> menjadi energi Mandala \u2018disemayamkan\u2019 dalam badan metafisik <em>jabang bayi<\/em>, selanjutnya dikunci oleh <em>lurik<\/em> sebagai energi penyatuan laki-laki dan perempuan. Terkait dengan traumatik kemelaratan dan ketertindasan, maka enam energi <em>Mandala<\/em> yang penuh dengan harapan kesuburan dan kemakmuran, serta kehendak kemuliaan dan keluhuran, adalah \u201ckeyakinan\u201d telah menjadi energi penuntun hidup di masa depan <em>jabang bayi<\/em> kelak. Enam batik dan satu lurik dalam ritual <em>Mitoni<\/em> adalah sumber \u201cenergi pembebas\u201d dari trauma masa lampau sekaligus kecemasan tentang masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Segala yang berkaitan tentang Jawa adalah \u201cenergi dan kehendak\u201d, sebuah kekuatan alam dan budaya yang secara naluriah mencari jalan menuju <em>rahayu<\/em>, sehingga memerlukan \u201csosok dan penggambaran\u201d untuk menyempurnakan manifestasinya di dunia manusia. Hampir semua ritual tradisi Jawa adalah upaya \u2018pengendalian\u2019 waktu dan ruang dalam rangka mencapai \u201cpembebasan\u201d. Artinya, puncak pencapaian \u201csistem nilai\u201d ritual tradisi adalah \u201cnilai keyakinan\u201d yang membangun \u201ckekuatan pembebas\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia Nusantara adalah sebuah cagar eksotisme dan benua hilang&#8230; yang hanya ada di angan-angan, begitulah kata Denys Lombard. Apa bedanya disebut atau tidak disebut: tradisional atau ketinggalan zaman, jika itu justru menyelamatkan salah satu puncak peradaban manusia yang bernama budaya Jawa?. Bisa jadi, nilai-nilai Jawa lama adalah \u201cenergi budaya\u201d yang hampir tanpa tanding, sehingga muncul banyak provokasi untuk membuangnya; jika itu bukan \u2018energi\u2019, pastilah para peneliti Asing tidak menghiraukannya sejak berabad lampau. Ada baiknya belajar kepada para pendekar budaya masa lampau, yang berhasil \u201cmenjawakan\u201d sekian banyak pengaruh dan ideologi pendatang. Begitulah seharusnya, bukan memodernkan Jawa, tetapi menjawakan modern\u2026<a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana4.jpg\" rel=\"attachment wp-att-3119\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3119\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana4.jpg\" alt=\"Suardana4\" width=\"692\" height=\"462\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana4-640x427.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana4-400x267.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana4-367x245.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 692px) 100vw, 692px\" \/><\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 23 Januari 2017pukul 10.00\u2013 12.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Drs. Setyo Budi, M.Sn. Sidang diketuai oleh Prof. Dr. Djohan, M.Si. , Prof. Drs. SP. Gustami, SU., sebagai Promotor, Dr. G. Budi Subanar, SJ. Kopromotor, dan Dewan Penguji\u00a0 PProf. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum., Prof. Dr. Kasidi Hadiprayitno, M.Hum, Prof. Drs. M. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3118,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[52],"tags":[],"class_list":["post-3114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana3-1024x445.jpg",1024,445,true],"list":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana3-463x348.jpg",463,348,true],"medium":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana3-300x200.jpg",300,200,true],"full":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Suardana3.jpg",1024,683,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3114"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3114\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11429,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3114\/revisions\/11429"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3118"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}