{"id":2570,"date":"2016-04-22T14:34:48","date_gmt":"2016-04-22T07:34:48","guid":{"rendered":"https:\/\/pascaisi.one-tech.info\/?p=2570"},"modified":"2025-01-29T21:19:06","modified_gmt":"2025-01-29T14:19:06","slug":"ujian-terbuka-doktor-ke-28-drs-i-wayan-suardana-m-sn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/ujian-terbuka-doktor-ke-28-drs-i-wayan-suardana-m-sn\/","title":{"rendered":"Ujian Terbuka Doktor ke 28 Drs. I Wayan Suardana, M.Sn."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pada hari Jum&#8217;at, tanggal 22 April 2016 pukul 09.00\u2013 11.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. Sidang diketuai oleh\u00a0Prof. Dr. Djohan, M.Si.,\u00a0 Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi sebagai Promotor, Prof. Timbul Haryono Kopromotor 1,Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum. Kopromotor 2, dan Dewan Penguji Dr. Sunarto,Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum.,Dr. St. Sunardi, Prof. Drs. M. Dwi Marianto, M.F.A., Ph.D., Prof. Suminto A. Sayuti. Saudara Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. berhasil mempertahankan Disertasi yang berjudul<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Adegan &#8220;Penyamaran Rahwana Sebagai Brahmana Dalam Penculikan Sita &#8220;: Karya Tiga Seniman Prasi Di Desa Sidemen Karangasem Bali<\/strong><strong> (<\/strong><strong>Kajian Ikonografi Dan Ikonologi)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat \u201c<strong>Memuaskan<\/strong>\u201d dan menjadi Doktor ke 28 dari PPs ISI Yogyakarta\u00a0<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5.jpg\" rel=\"attachment wp-att-2571\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2571\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5.jpg\" alt=\"suardhana  5\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5.jpg 1024w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5-768x512.jpg 768w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5-640x427.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5-400x267.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-5-367x245.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a>Disertasi saudara Promovendus membahas tentang Seni <em>prasi<\/em> yang merupakan gambar atau bentuk visual berupa goresan-goresan padadaun lontar kering dengan menggunakan pisau kecil berujung runcing (Bali: <em>pengutik<\/em>or<em> pengrupak<\/em>), kemudian diberi warna hitam terbuat dari buah kemiri yang dibakar<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Seni rupa<em>prasi<\/em> bergambar umumnya mengungkap cerita-cerita dari dunia pewayangan sepertiRamayana, Sutasoma, Mahabharata, Tantri, dan cerita-cerita sejenisnya. Cerita&#8211;cerita bergambar tersebut berkaitan erat dengan kesusastraan yang ditulis pada daun<em>lontar<\/em>. Tradisi penulisan dan penyalinan naskah pada daun l<em>ontar<\/em> di Bali telah berkembang sejak akhir abad ke-15 pada zaman Kerajaan Gelgel dengan rajanya Dalem Waturenggong. Setelah pusat kerajaan pindah ke Klungkung pada awal abad ke-18, banyak naskah dalam bentuk <em>kekawin<\/em>(syair) dan <em>kidung<\/em>(nyanyian) digubah ke dalam bentuk g<em>eguritan<\/em> (puisi)atau<em> parikan<\/em> (pantun dalam bahasa Bali\/Jawa) dalam bentuk lembaran daun lontar, berupa gambar yang berasal dari naskah-naskah kuno, yang digores dengan <em>pengrupak<\/em>, lalu diwarnai dengan abu kemiri (Suwidja. 1979: 199). Tradisi <em>mekekawin<\/em> (nyanyian untuk keagamaan) khususnya dalam agama Hindu sudah tidak asing bagi masyarakat Bali, karena <em>mekekawin<\/em> dinyanyikan dari sajak-sajak yang tertulis pada daun lontar setiap ada kegiatan keagamaan, misalnya upacara di <em>pura<\/em>, upacara <em>ngaben<\/em>, dan upacara-upacara lain yang dilaksanakan pada acara ritual agama.<a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-2.jpg\" rel=\"attachment wp-att-2574\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-2574 alignright\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-2.jpg\" alt=\"suardhana  2\" width=\"379\" height=\"568\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seniman <em>prasi<\/em> kebanyakan memvisualisasikan cerita epos Ramayana yang terdapat pada dunia pewayangan. Bagi seniman<em>prasi<\/em> khususnya dan umat Hindu umumnya, epos Ramayana merupakan kisah yang sangat sakral dan disucikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Umat Hindu percaya, bahwa tokoh Rama dalam Ramayana adalah reinkarnasi dari dewa Wisnu yang turun ke Bumi untuk sebuah tujuan yaitu menegakkan <em>d<\/em><em>harma<\/em> (kebaikan) dan menghancurkan kejahatan keangkara murkaan Rahwana ..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sekian banyak seniman <em>prasi<\/em>di Sidemen, tiga orang di antaranya memiliki popularitas paling menonjol, yaitu Ida Bagus Jelantik Purwa, Ida Bagus Raka dan Ida Ayu Budawati. Ketiganya berasal dari desa Sidemen, Karangasem, Bali. Ketiga seniman seni <em>prasi<\/em> ini sudah mempunyai reputasi tinggi. Karya-karyanya yang unik mempunyai karakter berbeda dengan seni rupa<em> prasi<\/em> tradisional. Masing-masing mempunyai gaya pribadi yang berbeda, misalnya dalam aspek visual bentuk\/rupa seperti penggunaan garis, bentuk, perspektif dengan sistem ganda, walaupun mereka berasal dari lingkungan seniman seni rupa <em>prasi <\/em>tradisional dan sama-sama mengangkat epos Ramayana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian ini dilakukan di desa <strong>Sidemen<\/strong>, Karangasem, sebuah desa yang terkenal dengan pembuat seni rupa <em>prasi<\/em> yang sampai sekarang masih berkembang. <em>Prasi<\/em>karya seniman Sidemen mempunyai ciri khas tersendiri, yakni berani keluar dari <em>pakem<\/em> seni rupa <em>prasi<\/em> tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam penelitian ini penulis meneliti <em>prasi<\/em> cerita Ramayana dengan pembatasan hanya adegan Penyamaran Rahwana Sebagai Brahmana dalam rangka Penculikan Sita.Dalam adegan ini merupakan inti cerita Ramayana, seperti yang dikemukakan Timbul Haryono yaitu kisah heroik dari Pangeran Rama, istri setianya Sita dan Rahwana penculiknya, lebih dikenal dengan nama populer Ramayana, (Haryono dalam Hermanu 2012: 8). Kisah ini adalah metafora dimana pesannya adalah kemenangan kebaikan atas kejahatan, keangkaramurkaan, keserakahan. Baik itu dipersonifikasikan oleh Rama sebagai awatar Dewa Wisnu\u00a0 dan kejahatan dipersonifikasikan oleh Rahwana. Gara-gara perbuatan Rahwana berani menculik Sita, maka terjadi permusuhan antara Rama dengan Rahwana, sehingga terjadi malapetaka bagi Rahwana. Rama sangat marah sehingga terjadilah permusuhan antara Rama dengan Rahwana. Rama menyerang Alengka untuk mencari istrinya yang diculik Rahwana, sehingga terjadi pertarungan antara Rama dengan Rahwana dan pada akhirnya Rahwana tewas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seni rupa <em>prasi<\/em> yang dibuat pada daun lontar telah lama berkembang di Desa Sidemen, Karangasem, Bali. Proses pembuatan <em>prasi<\/em> adalah dengan menggoreskan pisau khusus (<em>pengrupak<\/em>)padapermukaan daun lontar tersebut. Seni rupa <em>prasi<\/em> hanya menggunakan warna hitam, yang dibuat dari jelaga hasil pembakaran buah kemiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ramayana adalah cerita perjalanan hidup Rama dan Sita. Ditinjau dari segi kepercayaan, cerita Ramayana merupakan sarana pendidikan rohani yang mengandung falsafah sangat dalam, sejalan dengan cerita kehidupan manusia dalam mencari kebenaran dan hidup yang sempurna. Cerita Ramayana menyinggung pula tentang kebaikan dan kesetiaan Sita kepada suaminya yaitu Rama, karena menurut kepercayaan masyarakat Bali Rama adalah titisan Dewa Wisnu, sedangkan\u00a0 Sita adalah simbol Dewi Sri,\u00a0 istri Dewa Wisnu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kisah Ramayana adalah metafora dimana pesannya adalah kemenangan kebaikan atas kejahatan, keangkaramurkaan, keserakahan. Baik itu dipersonifikasikan oleh Rama sebagai awatar Dewa Wisnu\u00a0 dan kejahatan dipersonifikasikan oleh Rahwana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seniman <em>prasi<\/em> di Desa Sidemen memilih tema cerita Ramayana\u00a0 dalam berkarya dan pemilihan tema itu dianggap oleh mereka sebagai pengabdian terhadap agama karena cerita Ramayana memang berkaitan erat dengan agama Hindu. Pemilihan tema itu merupakan refleksi dari kepekaan mereka terhadap tradisi kreatif dalam lingkungan agama Hindu. Ramayana mengandung nilai-nilai moral terkait dengan <em>sradha <\/em>(keyakinan) dan <em>bhakti <\/em>marga (jalan pendekatan) dalam penyelengaraan ritual agama Hindu. Seni rupa <em>prasi<\/em>tumbuh dan berkembang berkat pengaruh seni lukis wayang Kamasan.Adapun tema paling terkenal yang dipilih untuk seni rupa <em>prasi <\/em>adalah Ramayana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Prasi<\/em> karya ketiga seniman di atas selanjutnya\u00a0 perbedaannya bisa dilihat dari\u00a0 ikonografi dan ikonologi yaitu :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pertama<\/strong> aspek Praikonografi mengenai Aspek Faktual dan Ekspresional, (1).<em>Prasi<\/em> karya Ida Bagus Jelantik Purwa bisa dikatakan lebih bebas penampilannya, yaitu berani menggambarkan adegan yang agak <strong>dramatis<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(2).<em> Prasi<\/em> karya IdaBagus Raka bisa dikatakan setia mengikuti pakem cerita Ramayana sebagaimana prasi-prasi yang berkembang sebelumnya di Sidemen, yaitu dengan menggambarkan keberadaan Rahwanadan Sita di dalam \u2018hutan yang lebat\u2019,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(3).<em>P<\/em><em>rasi<\/em> karya Ida Ayu Budawati lebih setia mengikuti pakem cerita Ramayana sebagaimana prasi-prasi yang berkembang sebelumnya di Sidemen, menampilkan yaitu Sita duduk \u2018<strong>bersimpuh<\/strong>\u2019 menggabungkan penggambaran visual dengan teks tertulis. Prasi karya Ida Ayu Budawati lebih berani menampilkan bidang kosong komposisi lebih dinamis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kedua<\/strong> aspek ikonografi \u2018konsep\u2019 dan \u2018ide\u2019 berbeda, (1). Ida Bagus Jelantik Purwa menggunakan konsep kebebasan <strong>amoralitas<\/strong> (rahwana) dan loyalitas Sita (2). Ida Bagus Raka menggunakan konsep <strong>\u2018kesepian dan ketakutan Sita\u2019<\/strong> serta kesetiaan pada teks Ramayana, sehingga penggambaran hutan betul-betul berkesan hutan lebat dan angker. (3). Ida Ayu Budawati menggunakan konsep <strong>\u2018kesopanan\u2019<\/strong> Seperti ditampilkan Sita duduk \u2018bersimpuh\u2019 dan dalam teks penjelasan lewat tulisan menggambar seadanya disertai teks penjelas tertulis, Prasi karya Ida Ayu Budawati hanya menampilkan adegan penyamaran Rahwana sebagai seorang brahmana, tidak disertai adegan Rahwana memperlihatkan jati dirinya sebagai seorang raksasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ketiga<\/strong>Interpretasi ikonologis yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah makna simbolik,\u00a0 SimbolInterpretasi ikonologis adalah proses pemaknaan yang dilakukan dengan memakai intuisi sintetis terhadap simbol, karya prasi ; \u00a0(1). Ida Bagus Jelantik Purwa menggunakan Interpretasi dari simbol \u2018amoralitas (rahwana) dan loyalitas Sita\u2019,(2). Ida Bagus Raka menggunakan Interpretasi dari simbol \u2018kesepian dan ketakutan Sita\u2019, (3). Ida Ayu Budawati menggunakan Interpretasi dari simbol \u2018susila (etika)\u2019 Seperti ditampilkan Sita duduk \u2018bersimpuh\u2019 dan dalam teks penjelasan lewat tulisan menggambar seadanya disertai teks penjelas tertulis.Makna intrinsik pada karya-karya terkait yang terdapat pada sebanyak mungkin dokumen kebudayaan yang ada. Dokumen-dokumen ini menjadi saksi kecenderungan \u2018politis\u2019, \u2018puitis\u2019\/\u2019sastra\u2019, \u2018religius\u2019, \u2018filosofis\u2019, dan \u2018sosial\u2019 <a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6.jpg\" rel=\"attachment wp-att-2575\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2575\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6.jpg\" alt=\"suardhana  6\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6.jpg 1024w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6-768x512.jpg 768w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6-640x427.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6-400x267.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-6-367x245.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p><strong>Manfaat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengkajian dan pendokumentasian karya seni rupa prasi ini memiliki berbagai manfaat penting dalam kaitan dengan upaya menggali kandungan nilai tradisi dan mengungkap makna dari sejumlah tanda. Berikut ini adalah berbagai manfaat tersebut: (1).Sebagai sumbangan pengetahuan bagi dunia seni dan budaya, tentang seni rupa prasi Bali sebagai salah satu warisan kebudayaan bangsa Indonesia. (2).Sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia seni rupa prasi\u00a0 dalam bentuk hasil kajian komprehensif menyangkut bentuk, konsep, tema, dan makna simbolik yang terkandung adegan \u2018Penyamaran Rahwana sebagai seorang brahmana\u2019 bertema cerita Ramayana di desa Sidemen. (3).\u00a0 Sebagai acuan dalam mengembangkan keilmuan seni yang bersumber dari seni rupa prasi yang berasal dari budaya tradisional Bali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11.jpg\" rel=\"attachment wp-att-2573\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2573\" src=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11.jpg\" alt=\"suardhana  11\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11.jpg 1024w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11-768x512.jpg 768w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11-640x427.jpg 640w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11-400x267.jpg 400w, https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-11-367x245.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada hari Jum&#8217;at, tanggal 22 April 2016 pukul 09.00\u2013 11.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. Sidang diketuai oleh\u00a0Prof. Dr. Djohan, M.Si.,\u00a0 Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi sebagai Promotor, Prof. Timbul Haryono Kopromotor 1,Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum. Kopromotor 2, dan Dewan Penguji Dr. Sunarto,Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":2572,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-2570","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ujian-terbuka"],"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-8-1024x445.jpg",1024,445,true],"list":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-8-463x348.jpg",463,348,true],"medium":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-8-300x200.jpg",300,200,true],"full":["https:\/\/pasca.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/suardhana-8.jpg",1024,683,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2570","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2570"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2570\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11470,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2570\/revisions\/11470"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2572"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasca.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}