RUANG BERMAIN PERUMAHAN SSP SARIWANGI BANDUNG menghantar Gustiyan Rachmadi menjadi Doktor ke-50 PPs ISI Yogyakarta

Ujian TerbukaComments Off on RUANG BERMAIN PERUMAHAN SSP SARIWANGI BANDUNG menghantar Gustiyan Rachmadi menjadi Doktor ke-50 PPs ISI Yogyakarta

Jum’at, 27 Juli 2018 pukul 09 .00 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Sdr. Gustiyan Rachmadi Bertempat di Concert Hall PPs ISI Yogyakarta Sidang diketuai oleh Kurniawan Adisaputro, M.F.A., Ph.D., sebagai Promotor adalah Prof. Drs. SP. Gustami, SU. serta Dr. Suastiwi, M.Des.  serta Dewan penguji Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum., Prof. Dr. Setiawan Sabana, M.F.A., Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, M.F.A., Ph.D., Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., Dr. St. Sunardi, dan Dr. Supriaswoto. Dengan karya Ruang Bermain Perumahan SSP Sariwangi Bandung menghantar Gustiyan Rachmadi menjadi Doktor ke-50 PPs ISI Yogyakarta dengan predikat “Memuaskan“.

Sariwangi yang merupakan desa dengan basis perkebunan. Daerah ini juga telah berkembang menjadi daerah perumahan urban. Pengembangan kawasan suburban tidak dapat dipungkiri kemudian memanfaatkan lahan-lahan produktif seperti pertanian dan perkebunan, serta lahan di kawasan pedesaan. Sebagaimana yang terjadi di kawasan desa Sariwangi, pertumbuhan perumahan di wilayah tersebut memanfaatkan lahan-lahan produktif terutama perkebunan para warga.

Perumahan SSP Sariwangi mencerminkan karakter hunian yang memiliki strata kelas menengah. Untuk mencitrakan selera kelas menengah, perumahan juga dilengkapi dengan patung  yang menandakan cita rasa masyarakat penghuninya. Kehadiran sebuah karya seni patung secara konseptual memiliki relevansi kontekstual dengan ruang yang ditempatinya. Ruang tersebut dapat berupa taman, lapangan, tempat bermain, atau jalan. Lahan kosong dalam perumahan  sangatlah terbatas, keterbatasan itu dikarenakan lahan di dalam lingkungan itu begitu berharga. Ruang yang terbatas inilah yang menjadi perhatian peneliti dengan maksud untuk mengolah dan memanfaatkan ruang tersebut untuk kepentingan masyarakat perumahan. Pemanfaatan tersebut dengan jalan menawarkan karya seni tiga dimensional yang bersifat interaktif dan memiliki dimensi kultural. Melalui karya ini hendak menawarkan sebuah konsep pemanfaatan ruang privat  elitis yang disisipi sebuah pesan moral, pesan yang digali dari nilai historis kawasan di lingkungan perumahan tersebut.

Berdasarkan penelusuran peneliti selama ini, ruang-ruang publik di wilayah pemukiman masyarakat urban di kota Bandung masih kurang diperhatikan. Selama ini banyak ditemukan pemanfaatan dan pengelolaan ruang publik yang mengalami pergeseran dan perkembangan dari fungsi sosial dan ekologis ke ekonomis. Ruang publik di kawasan pemukiman masyarakat urban, seperti taman, ruang terbuka hijau, dan trotoar,  beralih menjadi lahan pedagang kaki lima dan pasar tumpah. Pemanfaatan dan pemaknaan terhadap ruang publik privat tersebut belum maksimal peruntukannya. Sejatinya, ruang-ruang yang terbatas tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih humanis melalui seni rupa.  Peneliti mencoba menawarkan pendekatan estetika yang lebih memiliki dimensi fungsi sosial, terutama diperuntukkan bagi anak-anak khususnya di perumahan SSP Sariwangi Bandung. Karya seni tiga dimensi ini nantinya dapat dinikmati dan dijadikan arena bermain dan rekreasi bagi ibu-ibu dan anak-anak. Melalui karya ini, peneliti ingin menyisipkan nilai edukasi berupa pengembangan motorik anak-anak melalui bermain.

Temuan teoris penciptaan patung ruang publik di kawasan pemukiman masyarakat suburban, berupa jalinan nilai estetika, rekreasi dan edukasi yang tercermin di dalam karya seni patung ruang bermain di areal perumahan SSP Sariwangi Bandung. Ketiga nilai tersebut terjalin menjadi nilai-nilai yang bersifat relasional, estetika menjadi nilai yang tidak terpisahkan di dalam jalinan tersebut. Nilai estetika bukan ansih perihal keindahan bentuk semata yang terpisah dari nilai fungsi atau ulititasnya dan berjarak dengan masyarakatnya. Justru sebaliknya, karya ini menimbang dan “luluh” dengan masyarakat karena nilai kemanfaatannya secara langsung sebagai wahana bermain (edukasi) dan rekreasi. Ketiga nilai tersebut tidak dapat dipisahkan, sehingga nilai estetika adalah bagian integratif dari nilai-nilai yang lain.

Dari penciptaan yang dilakukan pemahaman tentang keindahan yang tidak lagi berjarak antara karya seni dengan masyarakatnya. Dengan kalimat lain, karya tiga dimensi/patung ruang publik sebaiknya tidak hanya indah dipandang mata, melainkan indah secara sosial dengan memiliki nilai yang interaktif dengan kondisi sosial masyarakat setempat. Lingkup penciptaan ini termasuk konsep dan bentuk visual karya tiga dimensi ruang publik di kawasan hunian masyarakat suburban, memiliki dimensi yang holistik. Menyangkut aspek pemaknaan ruang dan eksplorasi bentuk, hingga nilai yang memiliki dimensi lingkungan, khususnya dengan mengangkat memori kultural.

Ditinjau dari sisi ruang perumahan SSP Sariwangi yang menjadi ruang suburban di dalam kawasan desa Sariwangi, menghadirkan fenomena perbedaan topoligi ruang di dalam sebuah kawasan. Melalui eksplorasi estetik karya seni wahana bermain ini tersisip aspek ‘politis’, berupa penawaran nilai historis kawasan Sariwangi yang telah beralih fungsi. Melalui eksplorasi sarang burung Manyar penulis bermaksud menghadirkan imajinasi perihal miniatur kawasan yang dulunya dipenuhi pepohonan dan sarang burung. Masyarakat diajak untuk membangun imaji kultural daerah kawasan yang telah beralih fungsi menjadi perumahan yang mereka tinggali. Dengan ini karya mengandung nilai estetika yang berdimensi sosial melalui ruang bermain anak.

Dengan ini penulis dapat menyatakan bahwa, konsep penciptaan karya patung ruang bermain ini merupakan salah satu model penciptaan yang tidak hanya mementingkan aspek keindahan visual saja. Bentuk karya patung ini bertema sosio-estetik yang mengakomodasi aspek edukasi dan rekreasi ringan yang menjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakatnya. Nilai keindahan, merupakan jalinan unsur-unsur yang terkait aspek kegunaan dan karakteristik lingkungan fisik dan sosialnya (kelompok masyarakat penggunanya).

Pemanfaatan ruang terbuka yang ditawarkan dalam gagasan penciptaan ini, dapat menjadi model alternatif penciptaan karya seni tiga dimensi yang menempatkan estetika dalam kaitannya dengan fungsi sosial seni. Karya ini dapat dikembangkan ke yang lebih luas dan kompleks, seperti Eko-Estetik Patung Ruang Publik di lingkungan masyarakat dan juga kota besar di Indonesia. Seni yang memiliki dimensi estetika dan sekaligus fungsi praktis sebagai sarana rekreasi dan edukasi yang digali dari dimensi historis ekosistem alam dan kebudayaan masyarakat setempat.

Karya penciptaan seni patung ini akan menjadi satu model keindahan sosial estetis ruang publik. Selain itu, karya ini juga menjadi salah satu referensi bagi pemangku kebijakan, khususnya di bidang tata kelola lingkungan dan tata kota, terkait dengan nilai sosio-estetik, peran, fungsi, dan makna seni dalam realitas kehidupan masyarakat secara luas sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Lebih lanjut dalam kerangka pengembangan kreativitas praktisi seni, peningkatan ilmu pengetahuan apresiator, serta mampu mengakomodasi kebutuhan hidup bagi pengguna. Penciptaan seni tiga dimensi ruang publik ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas. Realisasinya  menjadi lebih bermakna secara kontekstual.  Penciptaan seni tiga dimensi ruang publik ini juga dapat menjadi model pengembangan seni-seni yang berbasis pada pemanfaan ruang terbuka yang dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Comments are closed.

© 2015 Pascasarjana ISI Yogyakarta

Facebook