Promosi Doktor ke 41 Dr Yustina Devy Ardhiani

Ujian TerbukaComments Off on Promosi Doktor ke 41 Dr Yustina Devy Ardhiani

Selasa 24 Oktober 2017 pukul 11.00– 13.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Sdri Yustina Devi Ardhiani. Bertempat di Concert Hall PPs ISI Yogyakarta Sidang diketuai oleh Prof. Dr. Djohan, M.Si., sebagai Promotor adalah  Prof. Dr. AM Hermien Kusmayati, S.S.T., S.U. , dan sebagai Kopromotor Dr. St. Sunardi kemudian Dewan Penguji  Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi, S.S.T., S.U., Dr. GR. Lono Lastoro Simatupang, M.A., Dr. Sal Murgiyanto, Kurniawan Adi Saputro, Ph.D., Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A., Dr. Bambang Pudjasworo, M.Hum., Saudari Yustina Devi Ardhiani berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul ‘Satire Tubuh Perempuan Kelompok Seni Sahita di Panggung Seni Pertunjukan” di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” dan menjadi Doktor ke 41 dari PPs ISI Yogyakarta. dan merupakan Doktor di bidang Pengkajian Seni ke 20 dari PPs ISI Yogyakarta.

Penelitian yang dilakukan oleh Yustina Devi Ardhiani ini berjudul “Satire Tubuh Perempuan Kelompok Seni Sahita di Panggung Seni Pertunjukan.” Sahita yang menjadi subjek utama penelitian adalah sebuah kelompok seni pertunjukan dari Surakarta, Jawa Tengah. Sahita terbentuk tahun 2001 dan beranggotakan empat perempuan yang di tahun 2017 ini berusia antara 45-56 tahun. Latar belakang penelitian, pertama, aneka ragam media (cetak, audio, audio-visual, online) yang dari waktu ke waktu berjumlah semakin banyak, melalui produksi berita maupun hiburan yang dilakukan, telah membentuk stereotip tubuh perempuan yang dianggap ideal menurut media. Kedua, jumlah stasiun televisi yang semakin banyak dan jam tayang yang nyaris 24 jam, membuat televisi menjadi media yang berpeluang besar “mendidik” masyarakat, di antaranya mempengaruhi stereotip tubuh perempuan yang dianggap ideal untuk tampil di panggung seni pertunjukan. Ketiga, jumlah seniman dari panggung seni pertunjukan yang tampil di layar televisi semakin banyak, dan seolah-olah hal itu menjadi parameter keberhasilan seorang seniman. Keempat, karya-karya Sahita menghadirkan seni tradisi sekaligus kontemporer, di mana Sahita berusaha membebaskan diri dari stereotip tubuh perempuan dengan gaya satire di panggung seni pertunjukan.

Persoalan utama penelitian adalah “Mengapa Sahita mencoba membebaskan diri dari stereotip tubuh perempuan dengan gaya satire di panggung seni pertunjukan?” Penelitian ini berada dalam ranah seni pertunjukan di Indonesia, dan dianalisis dengan mendialogkan konsep satire (Paul Simpson), konsep estetika sebagai politik dan konsep rezim seni (Jacques Rancière). Proses penelitian menggunakan metode life history (Sam Pack), yaitu merujuk pada penceritaan pengalaman-pengalaman hidup seseorang yang diceritakan oleh orang tersebut pada peneliti.

Gambaran singkat hasil penelitian ini adalah: 1) Dalam berkarya, Sahita memadukan unsur-unsur visual (tampil sebagai perempuan lanjut usia yang lincah dan jenaka), suara (tembang/nyanyian, dialog, akapela), gerak (olah tubuh dan gerakan tari), bunyi (musik), dan “ruang kosong” atau “area main-main” yang terbuka di sepanjang pertunjukan. 2) Inspirasi karya Sahita berasal dari pengalaman pribadi para personel Sahita dan isu yang berkembang di masyarakat. 3) Sahita memilih menggelar lakon dengan gaya  satire dan menggunakan tawa sebagai perisai, karena dengan gaya satire Sahita bisa mengatakan apa yang sulit dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. 4) Di tengah kegelisahan dalam melahirkan karya, keberadaan Sahita terombang ambing di antara tiga rezim seni yang tarik menarik di setiap karya mereka, yaitu rezim etik, rezim representatif, dan rezim estetik. 5) Menanggapi dominasi televisi, Sahita memilih menerima, berkompromi, dan menikmati irama yang ditawarkan media televisi.

Estetika sebagai politik terasa kuat pada saat Sahita tampil di panggung pertunjukan langsung, dan meskipun samar, masih terasa secara visual dalam penampilan Sahita di layar televisi. Komitmen Sahita dalam menyuarakan permasalahan kaum perempuan merupakan kategori politik yang selalu hadir dalam pertunjukan mereka, karena itu, estetika sebagai politik  menyatu dalam karya-karya Sahita.

Comments are closed.

© 2015 Pascasarjana ISI Yogyakarta

Facebook