Promosi Doktor ke 36 Andrian Dektisa Hagijanto, S.Sn., M.Si.

Rabu, 01 Pebruari 2017 pukul 10.00– 12.30 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Drs. Setyo Budi, M.Sn. Sidang diketuai oleh Prof. Dr. Djohan, M.Si., sebagai Promotor adalah Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, M.F.A., Ph.D. , dan sebagai Kopromotor,Dr. Suastiwi, M.Des.  Kemudian Dewan Penguji Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum., Kurniawan Adi Saputro, M.A., Ph.D., Dr. St. Sunardi, Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., Dr. Prayanto Widyo Harsanto, M.Sn., dan Dr. G. Budi Subanar, SJ. Saudara Dr. Andrian Dektisa Hagijanto berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul Perayaan Parodi Visual Karakteristik Serdadu KNIL Andjing Nica di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” dan menjadi Doktor ke 36 dari PPs ISI Yogyakarta. dan merupakan Doktor di bidang Pengkajian Seni ke 15 dari PPs ISI Yogyakarta.

????????????????????????????????????

Kira-kira lima tahun belakangan ini, banyak dijumpai masyarakat berpakaian dan menggunakan pernak-pernik militer pada jaman Perang Kemerdekaan. Mereka juga melakukan adegan pertempuran yang pernah terjadi sesungguhnya. Orang-orang itu disebut sebagai reenactor karena mengulang kembali kejadian peperangan yang pernah terjadi pada masa lampau. Dalam pengulangannya itu, para reenactor dituntut berpenampilan seotentik mungkin dengan karakter atau adegan yang diulangnya. Ada yang meniru pejuang kemerdekaan, ada yang meniru tentara Jepang, atau seperti serdadu KNIL.

Fenomena masyarakat menjadi reenactor dengan karakteristik serdadu KNIL Andjing NICA menjadi topik penelitian Andrian Dektisa dalam menyusun dan mempertahankan disertasinya dan meraih gelar doktor pada ujian terbuka di Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1 Februari 2017 lalu. Pengajar di DKV Universitas Kristen Petra Surabaya ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Ketertarikan tema penelitian dilatar belakangi kesukaan pada dunia kemiliteran dan sejarah Perang Dunia Kedua. Selain itu, fenomena berbusana militer meniru tampilan serdadu KNIL Andjing NICA menjadi bentuk dan cara berkomunikasi visual dengan menggunakan pakaian atau kostum.

????????????????????????????????????

Penelitian yang menggunakan metodologi visual Gillian Rose (2004) mengungkapkan bahwa motivasi orang berbusana militer ala serdadu KNIL Andjing NICA disebabkan dua hal. Pertama, sebagai bentuk pembelajaran sejarah kemiliteran dengan cara yang lebih menarik sekaligus pemahaman baru tentang KNIL sebagai bagian sejarah yang sangat kental mewarnai kemiliteran Indonesia secara objektif. Dengan metode atau cara berlajar yang baru tersebut diharapkan sejarah militer tidak lagi dipandang membosankan dan hanya terkungkung pada konstruk Orde Baru yang cenderung mendiskreditkan KNIL. Sejarah militer tidak lagi berkaitan dengan persoalan sebagaimana oposisi biner yakni terkait benar atau salah, kawan atau lawan. Sejarah militer semestinya dipahami secara holistik dan menjadi pembelajaran tentang masa lalu yang harus diambil hikmahnya bagi masa depan dan bagian perjalanan kehidupan bangsa. Walaupun KNIL merupakan organisasi militer bentukan pemerintah kolonial Belanda di jaman Hindia Belanda, namun dalam perjalanan bangsa turut memberi sumbangsih bagi kehebatan TNI di saat ini. Banyak tokoh dan pahlawan nasional yang merupakan bekas serdadu KNIL pada masa itu.

Kedua, pemakaian replika kostum dan pernak-pernik meniru serdadu KNIL pada masa kini ditengarai juga menjadi semacam ajang ‘pemuasan’ bagi pencarian figur superioritas. KNIL adalah representasi keperkasaan dan kehebatan Belanda pada era Perang Kemerdekaan. Belanda sebagai bagian dari bala tentara Sekutu, mempunyai kostum dan perlengkapan tempur yang tergolong canggih pada masa itu, dan di masa kini menimbulkan kesan ‘mbois’ bagi sang pemakai kostum replikanya. Di tambah lagi harga replika baju, celana, topi, ikat pinggang, sepatu dan ransel yang sangat mahal dan langka karena produk impor yang dijual terbatas.

????????????????????????????????????

Karakteristik visual serdadu KNIL yang menciptakan kesan ‘mbois’ dan menjadikan si pemakai merasa hebat, tampil lebih ganteng, objek narsis dan mengesankan pemakainya sebagai orang berduit. Hal-hal demikian itu apabila di relasikan dengan kajian poskolonialisme adalah sebagai ungkapan dari sindroma ketidakpercayaan diri. Suatu problem kejiwaan yang tidak disadari dan menghinggapi sebagian masyarakat kita dan jamak terjadi di negara-negara yang mempunyai riwayat penjajahan. Masyarakat yang minder dan tidak bangga dengan karakteristik dirinya sebagai orang Indonesia, serta selalu mencari aneka karakteristik impor dan bangga menggunakannya dengan berbagai alasan seperti dianggap hebat, ikut trend dan lain sebagainya. Individu-individu demikian berpotensi mengidap sindroma ketidak percayaan diri.

Kecenderungan individu yang mempunyai problem ‘minderwardig complex’ salah satunya adalah pencarian figur-figur superior dan meniru karakter yang dianggap hebat sebagai pemenuhan dorongan memperoleh kepuasan diri untuk mengatasi problem kejiwaannya itu. Ungkapan bentuk rasa ketidakpercayaan diri salah satunya dilakukan dengan memakai karakteristik visual gabungan karakteristik diri dengan dari luar. Jadilah individu yang hibrid, sebab memakai campuran aneka atau berbagai identitas yang dicomot dari sana-sini. Termasuk juga mengambil aneka identitas khas Barat, seperti mengubah warna rambut menjadi pirang, mengubah tampilan lahiriah dengan operasi plastik, dan yang paling mudah adalah menggunakan replika busana militer seperti yang digunakan penjajahnya dahulu.

Dengan kostum itu ia merayakan dalam aktivitas eforia kegemaran berkostum seperti gaya serdadu KNIL. Seragam KNIL yang digunakan lagi pada masa kini bukan lagi sebagai atribut militer, namun telah berubah menjadi fashion militer. Artinya, siapapun bebas memakainya tidak harus anggota militer atau punya riwayat keturunan KNIL, misalnya. Termasuk juga bebas mengkombinasikan dengan pernak-pernik lain di luar pakem seragam itu.

Replika seragam serdadu KNIL Andjing NICA yang digunakan pada masa kini bukan upaya meneruskan riwayat ataupun ideologi kolonialisme, tetapi menjadi bagian dari eforia perayaan kostum yang menciptakan rasa kegembiraan dan kepuasan penggunanya. Apabila dilihat dari perspektif problematika inferior yang secara tidak sadar diidap oleh individu poskolonial, maka perayaan menggunakan kostum itu adalah upaya fantasinya untuk menjadi seperti ‘sang tuan’. Tetapi ketika ia berhasil meniru karakteristik sang tuan, sesungguhnya ia sedang menertawakan sang tuan, sebab ia tidak pernah bisa menjadi sang tuan yang sesungguhnya. Dia hanya mampu menjadi tuan dalam aktivitas dan eforia perayaan visual menjadi sang tuan. Hal itu menjadi kesimpulan dan temuan penelitian disertasi yang dilakukan Andrian Dektisa.

????????????????????????????????????

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2015 Pascasarjana ISI Yogyakarta

Facebook