Ekpresi Simbolik Seni Lukis Anak Di Yogyakarta mengantarkan Martono menjadi Doktor ke 45

Ujian TerbukaComments Off on Ekpresi Simbolik Seni Lukis Anak Di Yogyakarta mengantarkan Martono menjadi Doktor ke 45

Rabu, 10 Januari 2018 pukul 10.00 WIB Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ujian Terbuka Sdr Martono  Bertempat di Concert Hall PPs ISI Yogyakarta Sidang diketuai oleh Prof. Dr. Djohan, M.Si., sebagai Promotor adalah  Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, M.F.A., Ph.D.  , dan sebagai Kopromotor Prof. Dr. Suminto A. Sayuti  beserta Dewan Penguji Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum., Prof. Drs. M. Dwi Marianto, M.F.A., Ph.D. , Dr. St. Sunardi , Dr. H. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., Dr. Prayanto Widyo Harsanto, M.Sn., Kurniawan Adi Saputro, Ph.D.,, Saudara Rusnoto berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul “Ekspresi Simbolik Seni Lukis Anak Yogyakarta di hadapan Dewan Penguji sehingga lulus dengan predikat “Memuaskan” dan menjadi Doktor ke 45 dari PPs ISI Yogyakarta. dan merupakan Doktor di bidang Pengkajian Seni ke 22 dari PPs ISI Yogyakarta.

Dalam presentasi Sdr Martono membahas tentang masa anak usia dini adalah masa berkembangnya kreativitas sehingga disebut masa keemasan golden age. Pada masa ini anak mampu berpikir, merasakan, memilih, dan berimajinasi untuk menemukan ungkapan simbol visual baru yang bermakna bagi dirinya. Proses kreasi anak mampu berimajinasi dari melihat fenomena lingkungan sosial budaya sekitar, selanjutnya melalui proses internalisasi diekspresikan dalam bentuk simbol visual menjadi sebuah lukisan yang unik dan estetik. Anak dalam proses berekspresi lebih mengutamakan apa yang dirasakan dan dipikirkan yang divisualkan dalam bentuk simbol ekspresi visual dalam lukisannya daripada apa yang mereka lihat secara kasat mata. Ekspresi simbol visual dalam lukisan anak belum mendapat apresiasi dan perhatian yang memadahi dari berbagai pihak, untuk itu,  perlu  penelitian untuk memahami, menafsirkan simbo-simbol visual dalam seni lukis anak.

Dalam belajar melukis masih banyak anak dikondisikan oleh guru, orang dewasa, dan sponsor dengan tekanan-tekanan yang kurang mendorong originalitas ekspresi kreatif anak. Ketika konteks direkayasa dengan pemaksaan berbagai cara dalam proses melukis dan sekaligus mendapat tekanan dari luar yang tidak sesuai dengan alam pikiran dan perkembangan anak akan merusak kemampuan imajinasi dan kreasi anak yang sebenarnya. Oleh sebab itu, melukis atau meng­gambar bagi anak dapat dipakai sebagai media untuk mengembangkan berbagai potensi pada diri anak. Proses internalisasi pada diri anak yang selanjutnya diekspresikan melalui simbol-simbol visual dalam lukisan yang perlu diapresiasi, diintepretasi, dan ditafsirkan untuk memahami makna simbolik dan estetikanya.

Bagaimana memahami makna ekspresi bentuk dan warna pada lukisan anak akan muncul bila diintepretasikan dan terus muncul kembali pada setiap intepretasi baru. Penafsiran mengguakan hermeneutika untuk menemukan makna memerlukan proses dekonstruksi dan direkonstruksi oleh penafsir sesuai konteks dimana penafsiran dibuat sehingga makna teks tidak pernah baku dan senantiasa berubah tergantung bagaimana, kapan, dan siapa pembacanya. Pembacaan karya seni merupakan serangkaian perbaikan yang terus menerus dilakukan sebagai kerja intepretasi hingga mampu membawa kesatuan makna dengan memperhatikan dua konteks, yaitu konteks objek yang ditafsirkan dan konteks siapa yang menafsirkan.   Selanjutnya, seperti apa kecenderungan tematik tematik seni lukis anak Yogyakarta? Bagaiman kreativitas anak mengekspresikan garis, bentuk, warna, dan gaya seni lukis? Mengapa ekspresi simbolik seni lukis anak Yogyakarta memiliki kekhasan dan keunikan? Hasil ekspresi simbolik seni lukis dapat dilihat dari pelukis pemula, anak sanggar, dan non sanggar dalam konteks kehidupan lingkungan sosial budaya Yogyakarta?

Hasil penelitian

Penelitian ini menggunakan penedekata kualitatif induktif berbasis data dari lapangan yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan human instrumen. Objek penelitian adalah seni lukis anak usia TK dan SD kelas bawah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sampel lukisan anak pemula, anak sanggar, dan non sanggar. Dari hasil analisis menunjukan bahwa konteks lingkungan sosial budaya Yogyakarta yang kaya dengan aktivitas dan produk budaya sangat mempengaruhi tema lukisan anak di Yogyakarta.

Anak-anak di Yogyakarta lukisannya mengalami loncatan perkembangan yang lebih cepat satu jenjang dari periodisasi para ahli. Ekspresi bentuk coreng-moreng berkembang lebih cepat satu tingkat ke arah masa ‘prabagan’. Anak Yogyakarta usia 5—7 tahun masa ‘prabagan’ lukisanya sudah berkembang seperti masa ‘bagan’. Percepatan perkembangan itu dipengaruhi oleh cara belajar, peran sanggar, pembelajaran seni lukis pada pendidikan formal, seringnya mengikuti lomba seni lukis anak, dan konteks lingkungan sosial budaya anak di mana mereka tinggal dan beraktivitas yang mendorong untuk selalu belajar dan belajar yang lebih baik. Lukisan anak lebih mengutamakan ekspresi diri dan budaya lingkungannya. Ekspresi bentuk objek berdasarkan proporsi nilai yang memiliki makna peting bagi pelukisnya dilukis dalam bentuk yang lebih besar dan menggunakan warna favoritnya sebagai ikon dan sekaligus sebagai pusat perhatian dalam lukisan. Anak di Yogyakarta menggunakan ekspresi bentuk dan warna dalam lukisannya lebih banyak sebagai ekspresi simbolik-individualistik dari pada ekspresi imitatif-naturalistik, warna sebagai ekspresi warna dan warna sebagai ekspresi simbolik dibandingkan warna sebagai ekspresi imitatif.

Kecerdasan visual anak Yogyakarta mampu mengekspresikan bentuk simbol-simbol visual sebagai ekspresi diri dan ekspresi budaya Yogyakarta seperti peristiwa budaya misalnya sekaten,  produk budaya seperti tugu, lampu Malioboro, jatilan, wayang yang banyak menghiasi lukisan anak. Ekspresi diri dan ekspresi budaya tersebut yang dapat memberikan kepuasan pada diri anak. Ada dua tema yaitu tema wajib yang diberikan guru, pelatih, dan panitia lomba dan tema bebas ekspresi diri yang dipadukan secara harmonis sesuai perkembangan anak. Anak Yogyakarta pemula diberikan tema melukis hampir pasti pemandangan dua gunung, dan diberikan tema perjuangan yang diekspresikan hampir pasti bentuk perang. Anak sanggar ekspresi bentuk lebih terpola ekspresif dekoratif menggambarkan pengalaman diri berinteraksi dengan lingkungan sosial budaya dengan latar artefak budaya. Ekspresi seni lukis anak non sanggar bentuk lebih original dengan tampilan dekoratif stereotip pengulangan secara mekanis otomatis bentuk yang dimahiri dengan latar lingkungan alam seperti dua gunung, matahari, sawah, jalan, burung, dan pepohonan dengan ekspresi warna cenderung imitatif, terlebih pelukis pemula. Lukisan anak non sanggar yang belajar mandiri secara efektif dan sering ikut lomba ekspresi bentuk dan warna lebih memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri.

Makna, gaya,  dan estetika seni lukis anak di Yogyakarta dapat dilihat dari eksprersi bentuk simbol yang divisualkan dalam bentuk objek menjadi tidak proposional, bergaya rebahan, transparan, juktaposisi, stereotype berdasarkan nilai pentingnya objek dalam pikiran anak. Pembesaran objek bernilai penting dan deviasi objek menuju ruang kosong untuk mengisi komposisi yang harmonis. Keindahan lukisan anak  menampilkan objek yang jauh ditaruh pada bidang atas bidang lukisan, objek yang dekat di bagian bawah lukisan, dan semua objek tegak lurus dan bertumpu pada garis dasar dengan beragam bentuk dan ukuran. Simbol visual yang diekspresikan tidak mempedulikan apakah simbol itu indah atau menyenangkan tetapi berguna dan bermakna bagi perkembangan jiwa anak.

Saran

Anak yang merdeka yang mampu mengolah bentuk objek menjadi tidak proporsional untuk mencapai kepuasan ekspresi diri sesuai dengan pikiran dan perasaan. Untuk itu, berilah kebebasan yang cukup untuk menemukan ide dan pikirannya sendiri untuk menghasilkan bentuk-bnetuk unik yang bermakna bagi dirinya, jangan terlalu didoktrin untuk menjadi orang lain. Berilah contoh yang mendidik jika anak menemukan kesulitan teknis, berilah motivasi dan cerita untuk menemukan ide tema yang menarik sesuai perkembangan psikologisnya. Berilahreward bila anak berprestasi dan lakukanlah refleksi jika hasil ekspresinya belum sesuai dengan keinginannya, jangan dicela dan di marahi, ekspresi mereka bagus dan akan bertambah bagus jika belajar lebih serius.

Manfaat bagi masyarakat

Membaca, memahami hasil penelitian ini dapat sebagai tambahan pengetahuan dan apresiasi tentang seni lukis anak dapat sebagai bekal untuk membimbing dan mengembangkan apresiasi dan kreasi seni lukis anak. Bagi pendidik seni lukis anak dapat sebagai tambahan pengetahuan untuk mendidik anak agar lebih tepat dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak. Bagi peneliti lanjut dapat sebagai bahan pertimbangan dan kajian untuk menentukan pendekatan dan analisis yang lebih mendalam untuk menghasilkan produk yang lebih bermakna

Comments are closed.

© 2015 Pascasarjana ISI Yogyakarta

Facebook