Pameran Seni Rupa “Nguwongke” Di Taman Budaya Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta : Mulai Kamis Petang (15/12/16) puluhan karya senirupa kreasi 21 seniman Jogja mulai digelar di Taman Budaya Yogyakarta selama sepekan kedepan (22/12/16) dalam tajuk “The Art Of Nguwongke #1”. Mereka adalah M. Dwi Marianto, Yusman, Otok Bima Sidarta, Hajar Pamadhi, Liek Suyanto, Astuti Kusumo, Totok Buchori, Adjikoesoemo, Godod Sutejo, Dewobroto, Operasi Rachman, Tarman, Thithut, Fatkur Rochman, Dakota, Tri Suharyanto, Joseph Wiyono, Iswanto, Tini, Eko Sunarto, Mulyono dan Kibar Hardiono.

berita_338835_800x600_nguwongke_2Seniman Adji Koesoemo, salah satu penggagas pameran, menyampaikan bahwa The Art Of Nguwongke berangkat dari kegelisahan terhadap pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang saat ini masih cukup mengkhawatirkan. Pameran ini rencananya juga akan diadakan tiap tahun sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Desember.

Seniman termuda berusia 21 tahun bernama Thithut Wande yang masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta turut berpartisipasi di pameran tersebut dan kepada RRI mengungkapkan karyanya yang berjudul “Berteriak Pada Hati Yang Peka”. “Judul itu mengajak teman-teman untuk peka terhadap lingkungan, karena saya lahir di Jogja, saya diajari unggah-ungguh, tapi setelah saya kuliah bersama teman-teman yang datang dari seluruh Indonesia, saat bergabung dan lepas dari orangtua koq sangat bebas tanpa adanya unggah-ungguh samasekali”, ujar Thithut.

“Kata Nguwongke berasal dari Bahasa Jawa yang berarti memanusiakan manusia. Filosofi itu memiliki arti yang mendalam tentang bagaimana cara menghormati, menghargai, dan memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Setiap manusia selalu ingin dicintai, didengar, dan diperhatikan. Setiap manusia juga memiliki perbedaan, satu dengan yang lainnya. Karena itu mereka harus mendapat penghargaan yang berbeda”, tutur Aji.

Hal senada disampaikan dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, M. Dwi Marianto. Menurutnya, banyak hal dari kehidupan keseharian yang faktanya bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Praktik budaya dalam kehidupan sehari-hari yang belum nguwongke terjadi begitu saja di mana-mana, misalnya di jalan raya dimana ketidakpedulian terhadap keselamatan orang lain, dan juga bagi dirinya, semakin menjadi-jadi. Seniman Hajar Pamadhi yang juga ikut menyajikan karyanya di pameran ini, menyampaikan bahwa seni nguwongke adalah seni humanisme. Yakni sebuah usaha pemikiran humanisme yang mendudukkan manusia dalam ‘sewajarnya manusia’ dan melandasi toleransi serta kesetiakawanan.

Pameran “The Art Of Nguwongke” merupakan rujukan kemanusiaan yang bersifat autopoesis dan mendasarkan gerakan ber-‘adurasa’ untuk menemukan harkat kemanusiaan yang direpresentasikan melalui kesenian. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini mengungkapkan bahwa manusia harus mampu nguwongke makhluk hidup lain, manusia lain, peristiwa sosial, alam semesta, dan nguwongke dirinya sendiri. (Bud RRI Jogja)

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2015 Pascasarjana ISI Yogyakarta

Facebook